day 9. 30 day writing challenge

Day 9 #30DayWritingChallenge

Hampir semua orang pasti pernah berharap andai waktu dapat diputar kembali, mungkin kita bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu. Tapi walaupun kita bisa kembali ke masa lalu pun, kita tidak akan bisa mengubahnya. Aku pun pernah merasa demikian. Pernah merasa keputusan yang aku buat tidak tepat, jika saja ada kesempatan untuk merubahnya seperti dalam film-film mungkin sejarah akan berubah.

What is one thing you regret very badly and cannot change?

Sebenarnya aku percaya bahwa Tuhan sudah mengatur semuanya, bahwa kesalahan sekecil apapun yang kita lakukan pasti berdampak untuk kita di masa depan sebagai suatu pelajaran berharga. Jadi aku tidak mau mengubah masa lalu karena tidak mau siap kehilangan apa yang dimiliki saat ini. Daripada kita juga harus kehilangan bagian terbaik setelah penyesalan itu terjadi, ya lebih baik kita menerimanya saja dengan ikhlas hal yang pahit-pahitnya dulu.

Ada banyak hal yang aku sesalkan pernah terjadi, antara lain: Pernah marah kepada seseorang yang membuat hubungan kami menjadi renggang dan tidak baik hingga sekarang. Jika bisa memutar waktu, aku memilih untuk tidak pernah bertemu dan mengenalnya sama sekali.

Ada pula cerita, ketika aku mau membeli sofa dengan uangku sendiri dan aku meminta pendapat suami tentang sofa yang akan dibeli. Ternyata suami menginginkan sofa bentuk L yang sebenanrya tidak aku sukai baik bentuk dan warnanya. Aku menyesal kenapa aku harus mengikuti keinginannya padahal aku ada barang lain yang lebih baik sesuai keinginanku. Toh uang yang dipakai untuk membeli adalah uangku sendiri, kenapa orang lain yang ikut campur.

Tapi yang lebih aku sesalkan adalah aku gampang terpengaruh oleh pendapat orang lain.

Menyesal Ikut Asuransi Pendidikan

Suatu hari setelah papaku meninggal, mamaku menyuruh ikut program asuransi pendidikan agar ketika suamiku meninggal nanti aku masih bisa menyekolahkan anak-anakku. Posisinya aku sebagai ibu rumah tangga dan tidak berpenghasilan, persis seperti mamaku.

Pada tahun 1-5 aku mengikuti program asurasi itu, semua berjalan lancar. Sampai pada akhirnya aku mendengar kabar kalau perusahaan asuransi itu bermasalah dalam membayar klaim nasabahnya. Aku yang melihat ketidakberesan itu tidak cepat memutuskan untuk menghentikan pembayaran premi, karena saat itu aku masih positif thinking dengan menunggu perkembangan.

Tahun berikutnya ternyata tambah parah. Perusahaan itu tidak kunjung menyatakan pailit, tidak juga membayar klaim nasabahnya tepat waktu, bahkan ada yang sudah jatuh tempo hingga bertahun-tahun tetapi belum dibawar.

Akhirnya aku dan suami memutuskan untuk tidak melanjutkan asuransi itu dan merelakan uang yang masih berada di sana hilang. Jumlahnya lumayan, ada sekitar 36 juta yang hilang. Nyesek banget, karena itu uang hasil penjualan online yang aku pakai untuk mengikuti program asuransi.

Sebenarnya suamiku sejak awal tidak setuju untuk mengikuti asuransi itu. Tetapi karena paksaan mamaku, akhirnya aku memalsukan tanda tangan suamiku dan mendaftar. Toh ini pakai uangku juga, jadi suamiku gak berhak ngatur. Kecuali kalau aku memakai uang nafkah yang diberikan suami lalu aku tetap nekad ikut asuransi, maka aku dia berhak marah.

Mama mungkin takut jika aku tidak dapat mengatur keuangan apalagi aku kan sudah tidak bekerja kantoran. Takut kalau ada apa-apa dengan suamiku, aku akan kesusahan. Dengan adanya asuransi, setidaknya aku nggak perlu khawatir dengan pendidikan anak jika ada apa-apa. Hahaha…

Spoiler To My Life

Seandainya saja ada alat untuk bisa mengintip masa depan, mungkin dari awal aku tidak akan ikut asuransi itu. Ternyata setelah pindah ke Tangernag, walaupun aku tidak kerja kantoran tetapi aku cukup sukses menghasilkan uang dari hobi yang aku miliki. Itu hal yang tidak diperhitungnkan boomer seperti mamaku.

Mamaku pikir, bisa mendapatkan uang ya dengan cara kerja sebagai karyawan. Jaman sudah berubah, kini kita bisa bekerja dimana saja. Mendapatkan uang itu mudah asalkan kita mau berdoa dan berusaha. Ada Tuhan yang maha mengatur segalanya, jadi jangan takut dengan rejeki.

Mungkin mama juga takut jika uang hanya mengendap di tabungan, jika suatu saat suami selingkuh atau berbuat jahat, uang pribadiku bisa-bisa hilang. Ini efek karena kebanyakan nonton sinetron sih, dimana suaminya brengsek banget dan istrinya nggak bisa berkutik.

Maklum, saat aku ikut asuransi itu usia pernikahanku belum genap 1 tahun. Jadi mamaku juga masih wait and see melihat karakteristik mantunya.

Lalu untuk klaim asuransi jiwa ketika tertanggung yang sudah meninggal itu tidak semudah perkataan agent asuransi lho. Kita harus mengurus surat waris, bukti akta kematian orangtuanya, surat ini, surat itu, dll. Butuh waktu beberapa minggu hingga bulan hanya untuk mencairkan uang asuransi. Jika syarat sudah lengkap pun, masih ada kendala pada pihak perusahaan. Apakah perusaannya ‘sehat’? Ataukan bermasalah seperti kasusku itu.

Padahal asuransi pendidikan itu sangat bagus, sayangnya perusahaannya yang bermasalah.

Menyesal sih menyesal. Kenapa dulu aku tidak menyimpan uangnya di deposito atau dibelikan SBR/SR/ORI dll. Ketika suatu saat mau diambil untuk biaya pendidikan lebih mudah untuk dicairkan. It turns out suamiku nggak sejahat itu denganku, hehe..

Ya, itu tadi ceritaku tentang hal yang paling aku sesali dan tidak mungkin bisa diubah. Penyesalan itu berubah menjadi pelajaran yang sangat berharga untukku. Kedepannya, aku akan mengambil keputusan sendiri sehingga ketika suatu saat aku menyesal akan keputusan itu, aku hanya akan menyalahkan diri sendiri dan bukan orang lain.

Tulisan ini adalah bagian dari 30 Day Writing Challenge, dimana aku akan menantang diri sendiri untuk menulis dari topik-topik yang sudah disiapkan selama 30 hari penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *